Oleh: bayu sindhu raharja | Januari 26, 2012

Talking about hantu

Beberapa tahun terakhir ini ane lihat di tv, khususnya di dunia perfilman kita muncul beberapa species atau varian hantu baru. Kalau dulu waktu kecil, hantu yang ane tahu ada genderuwo, colok, pocong, kuntilanak, suster ngesot, dan sundel bolong. Tetapi sekarang, ada species baru seperti kuntilanak duyung. Ane nggak tahu dari mana species ini berasal, tapi menurut namanya, kuntilanak duyung, berarti hantu ini sebenarnya berasal dari species lama yaitu kuntilanak, mungkin saja didalam species kuntilanak sedang terjadi perbedaan pendapat, antara kaum kuntilanak progresif dan kaum kuntilanak konservatif. Kaum progresif menghendaki adanya pembaharuan, sedangkan kaum konservatif tetap pada pendiriannya yaitu mempertahankan eksistensi dari status quo.  Karena mungkin kaum progresif tidak difasilitasi pendapatnya, akhirnya dia memisahkan diri kemudian hadir dengan varian baru yaitu kuntilanak duyung, sebagai hasil dari koalisinya dengan putri duyung.

Tapi ada yang lebih penting dari itu, yaitu bakat atau talenta dari hantu yang dulu kita kenal hanya sebatas menakut- nakuti manusia, sekarang mulai bertmbah. Misalnya, hantu goyang karawang, ane nggak tahu pasti ini dari species hantu mana, tapi yang ane tahu bahwa hantu sekarang tidak hanya bisa nakut- nakutin orang tetapi bisa juga joget. Kemudian, ada bakat lain lagi yaitu hantu yang sangat menjaga kebersihan, setan keramas, mungkin hantu ini semasa hidupnya adalah orang yang perfeksionis ketika sudah jadi hantu pun dia nggak rela ada sedikitpun kotoran yang menempel pada tubuhnya. Jadi jangan kaget nantinya Anda menemui hantu yang rambutnya terurai indah, bukan karena dia rajin ke salon melainkan hanya karena dia rajin keramas.

Keberadaan hantu kuntilanak duyung, kemudian bertambahnya talenta- talenta atau keahlian dari hantu- hantu tersebut jelas kembali meramaikan pasar persaingan hantu. Bahkan untuk menegaskan eksistensinya si pocong pun mengumbar statement ‘pocong juga pocong’. Ane nggak tahu pasti apa implikasi dari statementnya tersebut. Tapi mungkin ini adalah konfirmasi tentang keberadaan film yang berjudul pocong 1, pocong 2, pocong 3. Maksudnya adalah bahwa apapun bentuk dan namanya, baik itu pocong 1, pocong 2, atau pocong 3 tetap dia adalah pocong. Atau mungkin si pocong ini mengikuti tren ABG sekarang, ABG- ABG labil. Jadi si pocong ini juga labil, nggak tahu jati diri yang sebenarnya dia miliki sehingga dia harus menegaskan bahwa ‘pocong juga pocong’.

Peta persaingan ini sebenarnya berpusat pada persaingan hantu perempuan. Selama ini dalam jagat dunia perhantuan perempuan, tidak ada yang bisa menggeser dominasi species seperti kuntilanak, sundel bolong, dan suster ngesot. Dengan munculnya varian baru yaitu kuntilanak duyung ini berarti pertanda ada penambahan varian baru, species putri duyung yang selama ini tidak terdengar gaungnya dipasar mencoba beraliansi dengan salah satu varian yang berasal dari sempalan species kuntilanak. Dalam dunia bisnis, strategi aliansi memang jamak digunakan karena resources yang selama ini dimiliki tidak cukup untuk mendapatkan pasar.

Kemudian bagaimana dengan sundel bolong dan suster ngesot?

Dari kedua species ini belum menunjukkan adanya strategi -strategi baru. Mungkin mereka sudah puas dengan apa yang dia dapatkan dari segmen pasar yang dia miliki. Tapi bagaimana pun bentuknya, kedua species tadi harus segera memikirkan bagaimana mereka akan berinovasi. Karena dalam ekonomi kapitalisme sekarang ini, inovasi merupakan nafas penting yang tidak bisa ditawar- tawar lagi. Pilihannya hanya ada 2, berinovasi dan tetap eksis dipasar atau tidak berinovasi kemudia tersingkir dari pasar. Bicara mengenai suster ngesot, ane kurang setuju dengan sebagian orang yang meng-understimate si suster ngesot. Mereka mengatakan bahwa tidak banyak yang bisa diharapkan dari hantu yang memiliki keterbatasan fisik karena ini akan membatasi manuver- manuvernya dalam proses menakut- nakuti orang. Akan tetapi yang harus diketahui bahwa sebenarnya dari species hantu perempuan, yang memiliki tingkat akademis tinggi adalah suster ngesot, karena bagaimana pun juga dia adalah lulusan sekolah keperawatan.

(Referensi utama diambil dari perkembangan judul film di Indonesia)

*No hard feeling, just for laugh


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.