Oleh: bayu sindhu raharja | Januari 22, 2012

Sisi lain mahasiswa: Dinamika persahabatan

Dinamika, dibayangan ane yang namanya dinamika itu gerak dari turun kemudian naik, dari kanan kekiri, dari pojok ke sudut (*mikir). Pokoknya yang ane simpulin kalo denger kata ‘dinamika’ adalah gerakan. Begitu juga dengan persahabatan kami, sekokohnya – kokohnya persahabatan tetap tidak bisa berada pada satu titik yang sama. Selama ini ane sering cerita tentang bagaimana kekompakan kami, kesolidan kami, bahkan ketika kami harus ditinggal Guntur, kami tetap solid (*bukan silit). Tapi ya itu tadi, seperti yang ane ocehin didepan sesolid appun persahabatan itu, akan tiba masa dimana kesolidan itu akan diuji sesuai dengan batas kemampuan hamba-Nya. (*Allohumma..Amiin..)

Peristiwa itu terjadi ketika kuliah Pak Wiryo, dosen yang mengampu mata kuliah Pancasila Dasar. Bukannya ane nggak Pancasialis, tapi saat itu ane rada males ngikutin kuliah itu sehingga ane putusin nggak masuk dulu. Kuliah Pancasila, yang ane inget saat itu si dosen selalu memaksakan kehendaknya kepada semua mahasiswa agar supaya membeli buku ajar yang sudah dia tentu’in. Dan barang siapa yang tidak membelinya, nilai C/D sudah barang tentu akan jadi ganjarannya. “Itu semuakan jelas bertentangan dengan nilai Pancasila ! Dalam Pancasila nggak ada tu sila yang bunyinya: Pemaksaan kehendak tertuju kepada seluruh mahasiswa !”. *fikirkan

Tanpa sepengetahuan dan seijin kelompok, ane mutusin untuk nggak masuk kuliah Pak Wiryo. Waktu itu ane lebih milih melakukan salah satu cabang olahraga yaitu senam jari (baca: PSan) bersama temen- temen lain yang pada dasarnya temen- temen lain itu merupakan kelompok yang agak berseberangan dengan kelompok ane, walaupun sebenarnya kami satu kelas. Sejujurnya yang berseberangan itu hanya satu- dua- tiga- empat- lima orang saja. Sedangkan yang lain nggak ada masalah, contohnya ane, ane nggak ada masalah tu dengan mereka, buktinya waktu itu malah main PS bareng.

Setelah beberapa jam main PS, ane ngrasa kuliah Pancasila udah selesai, kemudian ane putusin untuk kembali ke kampus untuk mengikuti kuliah selanjutnya. Alangkah terkenyutnya diri ini ketika sampai di parkiran disambut dengan muka – muka ‘sengak’ dari beberapa temen ane. Hawa- hawa tidak sedap ini coba ane abaikan, sampai pada akhirnya kuliah selesai dan kami nongkrong di tempat biasa. Perkiraan ane hawa- hawa tak sedap tadi bisa hilang setelah kita tongkrong bersama di tempat biasa, dan ternyata perkiraan ane itu salah, hawa tak sedap yang dibentuk melalui proses kimiawi yaitu peleburan senyawa ‘sengak’ dan ‘emosi’ malah semakin menjadi – jadi. Daripada terjadi pertempuran saudara yang berdarah- darah ane putusin untuk segera meninggalkan mereka.

Bertempat di warung HIK Lik Pujo, ane lampiasin semua emosi. Emosi yang tadi ane bawa dari kampus gara – gara diperlakukan tidak selayaknya oleh temen- temen ane. Sego kucing, tempe goreng, bakwan, es teh manis menjadi sasaran utama pelampiasan emosi ane. Agar lebih afdhol, sebagai desert ane ‘ciak’ juga rokok dji samsoe kretek. Dibawah pohon talok, ane hisap tu rokok sembari melepas butiran – butiran emosi dalam diri. Ditengah- tengah kenikmatan itu, ane terkejut karena dari kejauhan ane lihat Memet dan Kokom berboncengan menuju ke arah ane. Yang ada difikiran ane waktu itu seandainya terjadi kemungkinan terburuk, sendok dan garpu milik Lik Pujo bisa ane pinjem dulu untuk alat pengaman diri.

Ternyata dugaan ane salah waktu itu, Memet dan Kokom nyusulin ane ketempat Lik Pujo dengan membawa misi suci, misi rekonsiliasi atau perdamaian. Secara panjang lebar dia jelasin yang intinya dia bersedia memfasilitasi pertemuan perdamain diantara kami. Tapi, sebelumnya ane juga jelasin kenapa ane nggak ijin sama temen- temen ketika ane mbolos kuliah Pak Wiryo, dan kenapa pula ane mbolos bersama kelompok yang selama ini dianggap berseberangan dengan kelompok ane. Yang mana yang ane jelasin itu merupakan akar masalah sebenarnya.

Akhirnya ane bersedia dengan saran rekonsiliasi dari Kokom dan Memet. Hari itu bertempat di kost-an Kokom digelar upacara rekonsiliasi yang dihadiri oleh beberapa pihak terkait, termasuk ane. Upacara rekonsiliasi itu digelar secara sederhana, tanpa sound system, tanpa protokol acara, dan tanpa snack. Perdebatan berlangsung sengit, ane nggak merasa bahwa ane salah. Dan mereka tetap saja pada pendiriannya bahwa ane telah melakukan perbuatan yang melanggar tata norma hukum persahabatan, yaitu mbolos bareng dengan orang- orang yang dianggap berseberangan dengan kelompok.
“Emang yang berseberangan itu siapa. Kalian, atau semuanya? Jangan- jangan hanya sebagian kecil dari kita, tapi gunain nama kelompok untuk jadi tameng?”, begitu sanggahan ane ketika mereka mencoba menyudutkan ane.

Lama terdiam, sunyi…

Akhirnya Kokom mulai beraksi, “begini..begini,sudah..sudah..santai semua beroww”.

Panjang lebar kokom ngomong akhirnya berguna juga. Mereka akhirnya bisa memahami, dan minta maaf ama ane. Mereka mengakui bahwa mereka hanya terbawa emosi sesaat. Oke, karena waktu TPA ane selalu diajarin sama guru ngaji ane bahwa memaafkan merupakan perbuatan yang sangat mulia, akhirnya ane maafin kekhilafan mereka.

Tapi bagaimana pun juga, suksesnya rekonsialiasi diantara kami, tetap aja melahirkan rasa ‘ewuh- pekewuh”, sungkan, atau apalah namanya itu. Rasa- rasa itu bagaimana pun juga berpengaruh pada kondisi persahabatan kami. Ditambah disemester lanjut, kami mulai semester 6. Yang mana disemester itu mahasiswa sudah mengambil konsentrasi yang dia sukai. Ane, Kokom, Memet, dan Sapto masuk keuangan. Sedangkan yang lainnya, ada yang masuk pemasaran ada juga yang SDM. Oleh sebab itu, disemester 6 kami jarang ketemu, jarang ngumpul- ngumpul bareng, karena jadwal kuliah sudah tidak sama lagi.

Ya mungkin ini yang dinamakan dinamika, kita tidak bisa berdiri pada satu titik saja. Mungkin kita ingin tetap berdiri pada tempat yang sama, tapi sekali lagi waktu tetap berjalan dan memaksa kita untuk berani berada ditempat dan kondisi yang berbeda. Sama halnya dengan persahabatan kami, kami mungkin tidak bisa lagi ‘tongkrong- tongkrong bareng’ disamping kantin sambil goda- godain mahasiswi lewat seperti yang kami lakukan diawal- awal semester.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.