Oleh: bayu sindhu raharja | Januari 13, 2012

Sisi lain mahasiswa : Dosen paporit vs dosen an-paporit

Walaupun sudah ditinggal satu personel, Guntur (baca disini), persahabatan kami masih tetap solid. Akan tetapi, memang ada sesuatu yang agak berbeda. Keberanian, dan sifat radikal (*tapi bukan teroris) yang dimiliki oleh Guntur mau tidak mau, diakui atau tidak diakui, telah memberikan warna tersendiri pada cara pandang kami dalam menghadapi masalah. Lho.. tapi kan masih punya Benjo? yang selama ini mengaku bahwa dirinya seorang revolusioner sejati?. Disitulah perbedaan Guntur dan Benjo. Guntur lebih menekankan pada aksi yang nantinya akan dieksekusi sendiri. Sedangkan Benjo lebih menekankan aksi yang pada nantinya dieksekusi oleh orang lain, atau dengan kata lain si Benjo ini lebih punya kekuatan komunikasi sehingga propaganda – propaganda yang dia lakukan cukup efektif.

***

Agan – agan pernah kan denger iklan Axe? Yang katanya,”kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah Anda?” Itu semua gak cocok blas sama pertemuan pertama kami dengan Pak Subadi. Kuliah Pak Subadi seinget ane dilaksanakan hari Senin pukul tuju pagi. Beliau, Pak Subadi, adalah seorang yang sangat konvensional dalam berpikir, perfeksionis dalam penampilan, dan memiliki kadar kedisiplinan tingkat akut. Kebayang nggak sih, sifat yang dimiliki oleh beliau itu jelas nggak ada sedikitpun yang berkorelasi dengan kami. “Kami kan sekumpulan mahasiswa yang sangat – sangat dinamis sekali?”, bahkan saking dinamisnya kami nggak bisa memberikan arti, intrepetasi, dan pemaknaan dari sebuah kata yang dinamai dinamis itu sendiri (*modyar ndasmu !, cobo pikiren maksute). Wal akhir, ketika pertemuan pertama, kami terpaksa harus mengikuti perkuliahan dari kantin (#alias tidak diijinkan masuk), karena alasan terlambat dan alasan penampilan. Kata dia, tampilan kami nggak ada sedikitpun yang berkontribusi untuk disebut sebagai seorang mahasiswa.

 Dari markas besar kami coba pikirkan bagaimana cara menghadapi Pak Subadi. Seno, yang memiliki sifat seperti Guntur mencoba mengusulkan ide – ide ekstrimnya. Tapi percuma saja, usulan Seno mental karena nggak ada yang mendukung. Kemudian Benjo mencoba memaparkan ide pemikirannya secara panjang lebar (*sampai kami semua susah payah untuk menangkapnya), tapi akhirnya ide itupun mental juga. Selanjutnya Ane dan Kokom menyampaikan ide yang relatif aman dan moderat, yang intinya mengusulkan agar kami mencoba mengikuti kemauan dari Pak Subadi. Yang pada akhirnya ide dari ane dan Kokom itu diamini oleh Gondrong, Memet, Sapto, Guruh, dan Ju’on, yang pada kesempatan itu mereka lebih memilih untuk memberikan kontribusi pendengarannya. Wal akhir ide dari ane dan Kokom bisa disepakati bersama.

 Satu minggu berikutnya, jam 7 kurnag 15 menit kami sudah berkumpul di parkiran. Karena sudah kesepakatan bersama, kami putuskan untuk langsung naik ke kelas. Didalam kelas sudah berkumpul mahasiswa – mahasiswa lain, walaupun saat itu Pak Subadi belum datang. Semua mahasiswa – mahasiswa tadi pada ketawa ketika ngelihat penampilan kami (*nggak usah mereka, ane aja kalo inget penampilan ane waktu itu masih ketawa koq). Ane ngerasa waktu itu bukan diri ane yang sesungguhnya. Tapi tak apalah, memang segala sesuatu butuh proses dan pengorbanan (*sok bijak critanya).

 Pokoknya saat itu, hari senin merupakan hari yang cukup tidak mengenakkan dan selalu membuat kami dongkol. Ditambah lagi kami selalu jadi bahan tertawaan temen satu kelas. Belum lagi sindiran – sindiran Pak Subadi yang menusuk tajam, menancap direlung hati paling dalam. Dan akhirnya itu berakibat pada tingkat titik kulminasi kedongkolan Seno yang siap untuk diledakkan. Tepatnya dikamar mandi fakultas, ketika itu Seno melihat Pak Subadi berjalan menuju kesana, dengan secepat kilat ide radikalnya muncul. Diikutinya Pak Subadi dari belakang, ketika Pak Subadi masuk kamar mandi, Seno dengan bermodal tali kawat, yang kemudian tali itu dia ikatkan diantara daun pintu dengan paku yang tertancap diluar. Wal akhir, Pak Subadi nggak bisa keluar dan tertahan didalam kamar mandi untuk waktu yang cukup lama.

 Perbuatan Seno itu akhirnya membawanya menghadap ke pengurus bidang kemahasiswaan, dan nggak tanggung – tanggung sanksi yang dijanjikan adalah kartu merah untuknya (alias dikeluarkan dari kampus). Tapi, sanksi itu akhirnya nggak terealisasi, itu semua karena usaha kami dalam melakukan lobi – lobi, baik lobi kecil maupun besar (*tapi bukan meja lobi). Sebagai gantinya Seno diwajibkan untuk sholat berjama’ah dimasjid kampus. Jangan tanya koq bisa diganti dengan itu, karena sampai sekarang ane juga masih mikir, “koq bisa ya, trus apa hungannya coba? Sholat berjama’ah? Apa itu bisa merubah kelakuan Seno?” (*alah..nggak usah dipikirinlah, mikir yang lain aja)

 Hari itu hati kami dag-dig-dug-der menunggu nilai dari Pak Subadi. Dan akhirnya yang ditunggu – tunggu datang. Sumpah deh ini merupakan pengalaman hidup ane untuk pertama kali melihat semua barisan nilai D dari atas kebawah (alias semua mahasiswa dapet nilai D). Nggak cuma genk ane yang heran, tapi semua mahasiswa juga terheran – heran. Setelah ane tanya pada mahasiswa tingkat atas ternyata ngasih nilai D merupakan hobi dari Pak Subadi. Tapi itu semua bisa dipahami (*tapi nggak bisa dimaklumi), beliau memang terkenal dengan penerapan standar tinggi dalam penilaian. Wal akhir kami mengulang lewat jalur alternatif, alias semester pendek !

***

Tapi ada berkah tersendiri ketika kami mengulang di semester pendek. Berkah itu adalah dipertemukannya kami dengan Bu Feri. Bu Feri dosen yang masih muda, walaupun tidak bisa dikatakan muda banget. Murah senyum, dandanannya sangat simple tapi elegan. Dan pastinya:..cantik !! Yang membuat ane heran, dia nggak seperti dosen lain yang pergi ke kampus selalu guna’in mobil, bukannya nggak punya, la wong konon katanya selain dosen dia juga seorang bisnis woman yang sukses koq. Dia cukup gunain honda astrea grand terbitan tahun 1996. Wah…pokoknya dosen favorit ane banget dah..! Dan ternyata bukan ane seorang yang ‘ngefans’ sama beliau, temen – temen satu geng ane semua juga ngefans sama beliau. Bahkan sampai sekarang ane masih ketawa – ketiwi sendiri ketika inget bagaimana kelakuan over-acting kami ketika bertemu Bu Feri, baik itu didalam kelas maupun diluar kelas.

Mungkin saat itu hanya Bu Feri dosen satu – satunya yang bisa njinakin kami dan bisa ngebikin kami tertarik dengan mata kuliah yang diajarkan. Sesuai dengan Hukum Lek Pujo IV (#bakul sego kucing) yang mengatakan bahwa “ketika kamu tertarik, kamu jadi serius”, dan efeknya kami mudah menangkap apa yang disampaikan beliau. Wal akhir kami satu geng lulus semua dengan nilai yang sangat memuaskan : A !!!


Tanggapan

  1. kontras banget yah, pertama dapat dosen killer dan dapat nilai D, lalu keberuntungan mendadak berubah ketika diajar bu Feri dan kalian semua dapat nilai A :D

    • Seandainya keberuntungan itu datang terus, ane yakin Gan lulus dengan predikat ‘kumlaut’, IPK 4,00 (*wuih…sangar !)
      Tapi sayang nggak gitu Gan, ya…mungkin ini yg namanya kehidupan ya Gan.

      (*terima kasih agan r10 yang udah nyempetin waktu dan nulis komentar disini, hehe)


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.