Seperti yang ane sudah singgung di crita sebelumnya (baca disini), bahwa di semester selanjutnya kami bakal kehilangan satu personel, yaitu Guntur. Temen ane itu mutusin untuk nggak nglanjutin kuliahnya, sampai saat ini ane nggak tahu alasan pastinya. Tapi yang ane tahu pasti, sekeluarnya Guntur dari kampus dia merantau ke pulau seberang, tepatnya di kota Banjarmasin.
Seperti biasa, hari itu kami ngetem di markas besar, tepatnya disamping kantin sebelah timur laut gedung kuliah kami (*modyar, cobo pikiren). Ditengah asik-asiknya bercanda, Guntur bercerita bahwa dia ingin keluar dari dunia perkuliahan. Tapi saat itu yang ane inget, nggak ada satupun dari kami yang menganggap bahwa cerita Guntur itu serius (*ya inilah susahnya, dasar sudah urakan jadi sulit nyambung kalo diajak bicara serius). Guntur tetap mencoba dengan segala daya upaya untuk menyakinkan kami akan cerita itu, dan sampai pada akhirnya kami semua menyakininya.
Tapi sayangnya saat itu Guntur nggak mau cerita alasan yang mendasari dia keluar dari kampus terkasih ini. Tapi ya sudahlah…kami juga nggak bisa maksa dia untuk cerita untuk hal itu (*perlu dicatat, seurak-urakannya kami, kami tetap menjunjung tinggi HAM, hehe..). Selain itu, ada hal lain yang harus segera dipersiapkan, yaitu upacara perpisahan. Untuk itu kami daulat Memet sebagai ketua panitia. Yang sebenarnya keputusan ini sangat beresiko, karena Memet nggak punya tongkrongan sebagai seorang ketua (*sori Met, guyon lho…)
Walaupun nggak punya tongkrongan sebagai ketua, Memet pada dasarnya orang yang cukup bertanggung jawab (*inget, cuma cukup, tidak lebih dari itu), maka dari itu dengan sesegera mungkin dia memikirkan ubo rampe apa saja yang diperlukan untuk nanti malam. Gondrong, dan Kokom mendapat mandat khusus dari Memet. Gondrong mendapat tugas istimewa untuk menyiapkan air minum ‘merk tiga huruf’. Kemudian Kokom mendapat tugas khusus untuk menyiapkan tempat, gitar, jimbe, kecrekan, dan alat-alat lain yang bisa ngeluarin bunyi. Sedangkan ane dan yang lain cuma disuruh untuk menyiapkan kondisi badan agar tetap sehat wal’afiat untuk menyambut upacara perpisahan nanti malam.
Bertempat di kos ‘Pak Tani’, nama kost-annya Kokom, upacara perpisahan malam itu berlangsung meriah. Semua bernyanyi, semua tertawa, dan akhirnya semua larut dalam suasana pesta malam itu (*kebayang nggak sih, harusnya yang namanya upacara perpisahan itu kan nangis-nangis, sedih, dan berharu-biru, la ini malah..). Serangkaian kegiatan upacara perpisahan telah terlewati semua (*padahal nggak ada tu yg namanya susunan acara), dan akhirnya kami tertidur diiringi merdunya suara adzan mushola sebelah kos ‘Pak Tani’. Saking nyenyaknya kami lupa bahwa ada kuliah pagi yang sudah menunggu, dan yang lebih parah…saking nyenyaknya, Guntur lupa bahwa dia sudah membeli tiket bus untuk keberangkatan pagi itu.
Tapi nggak apalah, yang penting upacara perpisahan malam itu berjalan lancar. Lancarnya acara malam itu tidak luput dari tangan dingin (*maklum habis pegang es) Memet. Kesuksesan Memet dalam menyiapkan dan mengkoordinasi acara perpisahan malam itu mungkin berkorelasi dengan dipilihnya dia menjadi ketua muda/i didesa kelahirannya. (*Selamat Met, jadi pejabat beneran ni ye..)
***
Guntur dimata ane adalah sahabat yang luar biasa, luar biasa beraninya. Saking beraninya dia kadang nggak ambil pusing dengan resiko dari apa yang telah diperbuatnya. Sebagai contoh adalah ide ‘nggembosin’ ban mobil Bu Irti berasal dari buah pikirannya. Satu hal lagi yang ane inget dari dia adalah kekonyolannya, contohnya ketika OSPEK. Pada saat itu mahasiswa baru diwajibkan untuk membawa poster yang bergambar tokoh idolanya. Ane bawa gambar tokoh idola ane, John Lennon. Kokom bawa gambar Bob Marley. Gondrong bawa gambar Bang Haji Roma Irama. Memet bawa gambar Del Piero. Sapto bawa gambar pelukis legendaris Affandi, kemudian Seno, Ju’on, Guruh membawa gambar yang sama, gambar grup band luar ‘Dream Theather’. Sedangkan Guntur, dan Benjo dengan konyolnya mereka berdua membawa poster bergambar ‘Power Ranger’(*nggak habis pikir ane waktu itu). Sontak kelakuan mereka berdua menarik perhatian instruktur OSPEK saat itu, mereka berdua disuruh maju kedepan (*ya iyalah kedepan, masak maju ke belakang) dan ditanya alasan mengapa mereka bawa poster itu. Dengan santainya Guntur menerangkan panjang lebar yang intinya mengatakan bahwa Power Ranger adalah pahlawan yang luar biasa, bisa terbang dan mempunyai kendaraan raksasa (*hello…! trus apa hubungannya Tur)
Beberapa hari setelah kepergian Guntur, kami semua benar -benar merasakan ada satu warna yang hilang dari persahabatan kami. Hal ini akan berpengaruh pada kelakuan kami ketika menghadapi kuliah Pak Subadi di semester selanjutnya.


Komentar Terakhir