Oleh: bayu sindhu raharja | Januari 11, 2012

Sisi lain mahasiswa : Battle itu dimenangkan Bu Irti

Setelah kejadian itu (baca disini), suasana perkuliahan di hari-hari selanjutnya semakin menegangkan. Khususnya bagi genk ane, setiap jam perkuliahan kami selalu diteror Bu Irti dengan soal – soal yang sudah barang tentu tidak bisa kami kerjakan didepan kelas (*maklumlah, tugas utama mahasiswa kan bukan belajar, melainkan membangun networking, dan silaturahmi /baca:mblayang). Jadi, setiap jam perkuliahan Bu Irti kami selalu ditertawakan, dan dijadikan bulan – bulanan oleh Bu Irti. Terlintas diotak kami untuk menggemboskan ban mobil beliau, tapi itu semua nggak pernah terealisasi secara lancar karena usaha kami selalu digagalkan oleh Bapak Satpam. Pernah ketika itu hampir saja kami berhasil, tapi ya itu tadi, satpam kampus selalu saja melakukan intervensi untuk menggagalkan usaha kami. Pernah juga ketika itu kami sempat kepergok, karena memergoki aksi yang kami lakukan si satpam sontak mendatangi kami. Sebelum diintrogasi lebih lanjut kami putuskan untuk kabur. Aksi kejar-kejaran pun terjadi, dan akhirnya sampailah kita di tempat persembunyian paling aman, yaitu perpustakaan fakultas. *cuma 1 kali masuk perpustakaan fakultas, ya pas itu doang*

Ujian akhir semester tiba, semua mata kuliah sudah diujikan kecuali mata kuliah Bu Irti yang baru akan diujikan hari itu. Ane, Kokom, Memet, Seno dan yang lain sempat ‘shock’ melihat soal yang dibagikan hari itu. Yang ane inget waktu itu, soal dari Bu Irti lebih mirip makalah rangkuman sebuah buku daripada sebuah soal ujian. Pokoknya gile bener dah soal dari Bu Irti, saking gilanya si Benjo keliru ngumpulin berkas ujian. Yang dia kumpulin bukannya lembar jawaban, melainkan lembar ‘coret – coretan’. *sebenere gak ada bedanya sih, la wong lembar jawaban Benjo juga cuma berisi gambar bibir rolling stones*.

Setelah ujian itu kami berkumpul diparkiran *sepeda motor lho ya, bukan mobil*. Semua uring – uringan, misoh – misoh, sampai – sampai anggota ‘Kebun Binatang Jurug’ diabsenin satu – satu (*misal:asu, celeng, tanjir, dsb). Daripada semakin menambah dosa, akhirnya kami putuskan untuk mengakhiri pertemuan hari itu.

***

Hari itu sangat cerah sekali, tapi sayang cerahnya hari itu tak secerah lembar nilai mata kuliah Bu Irti yang ditempel di tembok belakang ruang dosen. Setelah secara seksama memperhatikan daftar nilai akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa diantara kami tidak ada yang dapetin nilai ‘A’, semua dapet nilai ‘D’. Dan itu semua berarti bahwa kami harus mengulang mata kuliah Bu Irti. Hanya satu kata terucap dimulut kami, “astaghfirulloh…” (*masih jadi perdebatan karena sangat disangsikan kata itu yang keluar dari mulut kami)

Dan tepat dihari itu, kami ikrarkan bahwa kami kalah perang denga Bu Irti. Untuk merespon kekalahan itu, secepat kilat kita rubah strategi. Strategi kali ini fokus pada satu tujuan: “lulus mata kuliah yang dulu diampu oleh Bu Irti !”. Segala upaya kami lakukan, mulai dari mendekati mbak-mbak bagian akademik, *agar supaya tahu kelas mana yang memiliki mata kuliah sama tapi tidak diampu oleh Bu Irti*, sampai mbak-mbak assisten dosen, *agar supaya memberikan kebaikan hatinya untuk mengijinkan kita keluar masuk lab KRS-an*.

Intinya saat itu kita putuskan untuk menghindari Bu Irti di semester selanjutnya. Yang mana disemester selanjutnya kita harus terpaksa kehilangan satu personel kita: Guntur !.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.