Seno, Memet, Guruh, Guntur, Benjo, Kokom, Gondrong, Ju’on, dan Sapto. Nama – nama yang disebutin didepan adalah temen satu geng ane (baca: saya). Setelah semuanya kumpul diparkiran, sebelum masuk kelas, biasanya yang kami lakukan terlebih dulu adalah kunjungan rutin ke kantin samping fakultas. Setelah sampai di kantin, ritual rutin yang telah disepakati bersama akhirnya dilaksanakan, *keluarin uang 1000 untuk patungan ngecer rokok + kopi 1 gelas*. “Lho koq cuma satu kopinya?”. Bagi kami, nggak masalah kopi buat joinan, yg penting rokok harus pegang sendiri – sendiri. Hehe…
Hari itu, disamping kantin (*tempat ngetem) kami duduk – duduk sambil rokok’an + joinan kopi, kemudian rutinitas selanjutnya yang mesti dilakukan adalah menikmati indahnya salah satu ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, (baca:mahasiswi). Perlu diketahui bahwa tempat kami ngetem sehari – hari merupakan jalur alternatif bagi mahasiswa fakultas komunikasi, yg sebagian besar mahasiswanya adalah perempuan. Tanpa diduga – duga dan dinyana -nyana, terlihat dari parkiran mobil seorang gadis cuantik keluar dari mobil Honda Jazz warna merah. Seketika itu juga mata kita langsung melotot ngliatin si gadis. Maklumlah, karena sebagian besar dari kita sudah lama jadi jomblo (*sekedar pembelaan biar ndak dikatain jlalatan sih). Wuihhh… Bener-bener dah cantiknya, jalannya aja kayak pramusaji, eh..pramugari maksud ane. Setelah beberapa meter berjalan, sampailah dia didepan kita. Tanpa komando kami kompak berdiri, kemudian dengan pede kami ulurkan tangan sebagai pertanda ajakan untuk berkenalan. Tanpa membalas uluran tangan kami, si gadis berlalu dengan senyum sinis dibibirnya. *Oalah…nasib…nasib..nasib*
“Ya bisa dimaklumi sih kenapa gadis itu nggak mau kenalan sama kami”. Ketemu berapa soal coba? gadis cantik dengan tongkrongan Honda Jazz mau berkenalan dengan kami – kami ini, sekumpulan cowok – cowok ‘mbladus’, tampang minimalis, modal cekak, saking cekaknya harus patungan dulu untuk ngecer rokok + beli kopi. Tapi tak apalah, tak sedikitpun ada rasa kecewa dihati kami, karena semua itu hanya kita anggap sebagai angin lalu (*sok tegar ceritanya).
Mungkin Anda bertanya, “apakah kalian tidak malu?”. O…tentu tidak, rasa malu kita sudah ikut terkorupsi oleh pejabat – pejabat negeri ini. Hehe… Setelah khatam menikmati salah satu ciptaan Tuhan (sekali lagi baca: Mahasiswi) khusus untuk hari itu. Ane, Memet, Kokom, Guruh, Guntur, Ju’on, Benjo, dan Sapto memutuskan untuk segera naik ke kelas dan memilih untuk tidak menuruti kemauan Seno dan Gondrong yang berencana untuk menunda kepergian ke kelas. Bukan bermaksud tidak setia kawin, eh..setia kawan maksudnya, tapi hari itu adalah kuliah Bu Irti, yang mana menurut kabar burung yang kami dengar konon katanya Bu Irti merupakan salah satu dosen ‘killer’ di kampus kami. Maklum, sebelumnya kami belum pernah diajar oleh Bu Irti.
Oke dah..agar pembaca bisa menerka – nerka wajah Bu Irti, ane berikan profil singkatnya. Usia Bu Irti belum terlalu tua, walaupun tidak bisa juga dikatakan bahwa dia masih muda. Selain sebagai dosen, beliau juga seorang bisnis woman, jadi tongkrongannya kayak orang sibuk bener Gan. Indikator bahwa dia orang sibuk bisa terlihat dari HP yang dia miliki. Dia punya 3 HP, *mahal semua HP-nya Gan*, satu dia pegang ditangan kanannya, satu lagi ditangan kirinya, dan yang terakhir dikalungkan dilehernya. Letak dari HPnya itu selalu konsisten, bahkan ketika dia sedang ngajar (*Coba deh bayangin Gan, bagaimana wujudnya). Ane gak bisa ngebayangin deh bagaimana kalau ketiga – tiganya bunyi semua?. Pernah sih ketika itu, ketika dia nerima telpon dari HP yang ditangan kanan, belum selesai bicara yang dileher sudah ikutan bunyi. Wuaaahhh… Heboh sendiri Dia, hahahaa… Satu lagi yang saya ingat dari Bu Irti adalah kebiasaannya yang jarang mengumbar senyum. Oke… Sudahkah Anda bisa membayangkannya? Kalau belum, ya sudahlah gak usah dipaksain.
Waktu itu perkuliahan Bu Irti sudah berlangsung selama 30 menit lebih, ketika Bu Irti sedang ngejelasin, seperti tanpa beban dosa dalam dirinya Seno dan Gondrong nylonong masuk kelas kemudian duduk dibangku paling depan. Sontak ketika itu Bu Irti langsung menanyai kenapa mereka berdua terlambat. *Sekali lagi seperti tanpa dosa* Seno dan Gondrong menjawab bahwa mereka baru saja dari kantin. Seketika itu terucap kata,” Keluarrrrrr…!” dari mulut Bu Irti. Bukannya langsung keluar, Seno dan Gondrong masih duduk dengan tenangnya , bahkan malah ngeluarin catatan dari tas lusuhnya. Kondisi ini semakin memancing emosi Bu Irti memuncak, seperti seorang diktator perempuan sontak dia berujar, “Saya yang keluar atau kamu yang keluarrrr…. ?!!!!!!!!”. Karena ucapan Bu Irti tersebut, suasana kelas kemudian sunyi senyap. Ditengah – tengah kesenyapan kelas. Benjo, yang selama ini mengaku bahwa dirinya adalah seorang yang berjiwa revolusioner dan selalu berikrar akan terus mengobarkan semangat perlawanan, menggunakan keahliannya untuk mengorganisasi teman sekelas lewat jalur bawah tanah (baca: bisik – bisik) untuk meninggalkan kelas Bu Irti. Apa yang terjadi kemudian? Bukan Bu Irti yang keluar, atau Seno dan Gondrong saja yang keluar, tapi semua mahasiswa keluar kelas perkuliahan Bu Irti. Sampai saat ini ane nggak tahu alasan utama keluarnya mahasiswa dari kelas Bu Irti saat itu. Apakah karena keberhasilan Benjo dalam melakukan propaganda revolusionernya atau memang semua sudah ‘empet’ sama kehebohan Bu Irti dengan dering telponnya, yang mana pada saat itu tidak hanya berdering sekali, melainkan berkali – kali.
Yang ane tahu pasti, setelah kejadian itu ane dan temen – temen satu geng ane jadi TO utama Bu Irti. Dan genderang perang pun akhirnya ditabuh….!
(*perlawanan disini jangan sampeyan maknai sebagaimana layaknya kata perlawanan dalam dunia pergerakan)


Komentar Terakhir