Ekonomi Neo- Liberalisme atau Ekonomi Kerakyatan ?

Posted in Sosial - Ekonomi - Politik on Juni 24, 2009 by bayusindhuraharja

Akhir – akhir ini konstelasi politik menjelang pilpres 2009 semakin memanas. Isu politik yang sedang hangat saat ini, dan menjadi bahan pembicaraan banyak kalangan adalah mengenai ekonomi neo- liberalisme dan ekonomi kerakyatan. Menarik sekali, karena isu politik semakin menyempit ke arah ideologi ekonomi. Tidak terus – menerus berkutat pada politik pencitraan.
Munculnya berbagai iklan di televisi mengenai ekonomi neo- liberalisme dan ekonomi kerakyatan telah memberikan sedikit gambaran bagi masyarakat tentang kedua madzhab ekonomi tersebut. Sehingga masyarakat baik di universitas, tempat kerja, bahkan di HIK pun sekarang mulai berbicara tentang isu tersebut. Jadi, ekonomi neo- liberalisme dan ekonomi kerakyatan itu bukan saja menjadi makanan kalangan elit, tetapi kalangan alit pun berhak untuk membicarakan, mengkaji dan kemudian membandingkan. Ini bagus untuk pendidikan masyarakat Indonesia.
Sebetulnya apa sih ekonomi neo- liberalisme Baca selebihnya »

Batu Jalanan

Posted in Curahan Hati on Mei 23, 2009 by bayusindhuraharja

Aku larut dalam sebuah kegelisahan. Hidupku memang berhiaskan luasnya samudra kegelisahan. Kegelisahan yang memang sudah menjadi sebuah hal yang tak terelakkan, lantas siapakah aku, sehingga aku berani berbicara tentang kegelisahan ?

Aku hanyalah manusia biasa, yang mungkin dimata orang – orang adalah sampah, sehingga keberadaanku pun selalu membuat gelisah. Aku bukan penguasa yang selalu dipuja – puja, aku juga bukan seorang artis yang selalu menghiasi dunianya dengan penuh kemewahan, aku mungkin juga hanya batu – batu jalanan yang keberadaanku harus disingkirkan.

Sampah dan batu jalanan, yang akan selalu membuat orang gelisah dan berusaha untuk menyingkirkannya, ya….itulah diriku, seorang yang hidup di jaman modern, tapi dipaksa untuk Baca selebihnya »

Demokrasi Seperti Apa, Yang Kita Kehendaki ?

Posted in Sosial - Ekonomi - Politik on Mei 17, 2009 by bayusindhuraharja

Demokrasi, ya begitulah, kita sering mendengar kata – kata tersebut, baik di rumah, sekolah, kampus, masyarakat atau bahkan diberbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Sebenarnya apa sih demokrasi, sampai – sampai berbagai kalangan masyarakat massif membicarakannya. Lalu mampukah demokrasi tersebut membawa kita menuju sebuah negara sejahtera, yang adil dan makmur. Itulah pertanyaan yang sering sekali terlintas dalam otak kita, khususnya otak saya.

Ketika berbagai kalangan, baik aktivis, elite politik berteriak – teriak tentang demokrasi, sebenarnya demokrasi seperti apa yang mereka kehendaki? Apakah demokrasi yang mereka teriakkan itu sama ?, jawabannya Baca selebihnya »

Catatan Kegelisahan

Posted in Curahan Hati on Mei 16, 2009 by bayusindhuraharja

Indonesia…Indonesia….Indonesia….Ya..ya..itulah nama Negara saya, tempat dimana saya menjalani lika – liku kehidupan, dan pastinya Negara ini akan tetap menjadi kebanggaan bagi saya.

Tapi entah mengapa ketika saya berada diantara sekian banyak orang yang ngakunya kalo saya tanya adalah orang Indonesia, baik itu di masyarakat, di kampus, dll saya merasa menjadi seperti orang asing, karena saya merasa sangat sulit bahkan tidak mampu untuk mengenali mereka. Mengapa ?, Mengapa ? pertanyaan yang selalu terlintas di otak saya. Apakah sekarang mereka menjadi orang asing, sehingga saya sulit mengenali mereka, atau malah saya yang menjadi orang asing sehingga sulit dikenali oleh mereka, dua opsi yang menurut saya sangat mungkin untuk menjawab pertanyaan saya. Baca selebihnya »

Saatnya Yang Muda Yang Berbicara

Posted in Curahan Hati on Maret 6, 2009 by bayusindhuraharja

Sedikit mengutip sebuah tulisan yang ditulis oleh politisi muda Budiman Sudjatmiko, “Meski Indonesia merupakan negeri tropis yang akrab dengan matahari, Indonesia bukanlah matahari itu sendiri. Setidaknya berbeda dengan matahari yang pada saatnya harus terbenam, Indonesia bisa memilih untuk tidak terbenam”.  Sebuah tulisan yang sebenarnya sudah lama saya baca, tetapi sampai sekarang tulisan itu masih melekat dan menjadi renungan bagi diri saya sendiri.

“Indonesia bisa memilih untuk tidak terbenam”,  nah inilah salah satu potongan kalimat yang mungkin mempunyai makna yang cukup dalam bagi para generasi muda(termasuk saya). Ketika  Indonesia memilih untuk tidak terbenam, ketika itupula kita mempunyai tugas untuk berjaga, berjaga untuk kemerdekaan. Baca selebihnya »

SEDIKIT CERITA DARI SEORANG HAMBA

Posted in Curahan Hati on Maret 4, 2009 by bayusindhuraharja

Hari – hari yang menjemukan, membosankan,  melelahkan, menjengkelkan, dan membuat ku mudah cepat marah, itulah segala unek – unek yang aku rasakan pada beberapa hari ini. Bukannya aku tidak bersyukur akan nikmat yang Tuhan berikan kepadaku, akan tetapi perasaan tersebut adalah representasi dari salah satu sisi kehidupanku. Kalau ditanya, berapa jumlah sisi kehidupanku, sebetulnya aku juga bingung akan menjawabnya. Akan tetapi saya yakin  didalam diri saya ada beberapa sisi kehidupan,  yang saling menopang satu dengan yang lainnya. Apabila satu sisi terluka pasti akan mempengaruhi sisi yang lain. Begitulah keyakinan saya, Baca selebihnya »

GEJOLAK HATI

Posted in Syair/Puisi? terserah mau bilang apa on Februari 28, 2009 by bayusindhuraharja

CINTA = tanda tanya

Posted in Syair/Puisi? terserah mau bilang apa on Februari 28, 2009 by bayusindhuraharja

SURAT DARI SI BODOH

Posted in Syair/Puisi? terserah mau bilang apa on Februari 28, 2009 by bayusindhuraharja

MENGINTIP DEMOKRASI DI INDONESIA SETELAH REZIM ORDE BARU ( Tentang Kebebasan, Keadilan dan Kesejahteraan )

Posted in Sosial - Ekonomi - Politik on Februari 28, 2009 by bayusindhuraharja

Tanggal 21 Mei 1999, kemenangan telah tercapai, kita lepas dari rezim otoriter Orde Baru. Peristiwa sangat bersejarah yang memakan korban di kalangan mahasiswa. Akan tetapi kita semua seolah – olah lupa akan nama – nama seperti : Hery Hartanto, Elang Mulia Lesmana, Hendriawan Sie ( Peristiwa Trisakti 12 Mei 1998 ); Sigit Prasetyo, B. Reliano Norma Irmawan, dan Teddy Mamadi ( Peristiwa Semanggi I, 13-14 Nopember 1998 ); Yap Yun Hap dan Dani Yulian ( Peristiwa Semanggi II, 23-24 September 1999 ), Yusup Rizal dan Zaidatul Fitria ( Peristiwa Lampung, 28 September 1999 ); Meyer Adriansyah ( Peristiwa Palembang, 5 Oktober 1999 ); Mozes Gatotkaca (Peristiwa Jogjakarta, 1996 ); Syaiful Bya, Sultan Iskandar, Tasyrif ( Peristiwa April Berdarah, Makassar 1996 ). Puluhan lagi diculik dan hilang tak tentu rimbanya, hingga hari ini, seperti Wiji Tukul( M Fadjroel Rachman, Demokrasi Tanpa Kaum Demokrat ). Karena dengan tetesan darah mereka, demokrasi di Indonesia kembali kita mulai dengan lembaran baru (Era Reformasi). Baca selebihnya »