Oleh: bayu sindhu raharja | Januari 26, 2012

Talking about sinetron

Setelah ngomongin masalah hantu (baca disini) kini giliran ane mau ngomongin soal sinetron di tipi- tipi kita. Sinetron, apa pun bentuknya telah berkontribusi atas tidak bisanya ane nonton acara yang ane sukai, ane lebih memilih jadi anak yang berbakti pada ibu daripada harus jadi anak durhaka cuma gara – gara rebutan channel mana yang seharusnya ditonton. Singkat cerita, ane nggak bisa nonton acara tipi yang ane sukai, ya..karena keberadaan sinetron itu. Sedikit informasi, ibu ane adalah pecandu sinetron dosis tinggi.

Ketika ane kuliah di Solo, hampir setiap hari ane berangkat pagi- pulang sore. Ya..maklumlah karena mulai semester 3 ane nglaju klaten- solo. Jadi, waktu yang seharusnya efektif untuk saya nonton tipi ya sore hari setelah saya pulang dari kampus. Tapi semua itu sia- sia saja karena pas diwaktu itu adalah saat ketika sinetron- sinetron mulai bergentayangan. Wal akhir… ya saya harus ngalah. Apalagi kalo remote tipi sudah ditangan ibu ane, jangan harap channel tipi bisa dipindah- pindah.  Karena menurut teori yang sudah banyak disepakati para pakar bahwa pemegang kekuasaan didepan tipi adalah orang yang memegang remote tipi.

Kadang ane lebih milih keluar rumah, dan atau main ke rumah temen daripada harus nonton tu sinetron. Atau kadang- kadang ane ndengerin musik di kamar. E….ibu ane gak mau kalah saingan, dia besarin juga tu volume tipinya. *Hadeh… insyaf dan kembalilah ke jalan yang benar ibuku

Tapi sekali waktu ane coba tonton tu sinetron, karena penasaran seperti apa jalan critanya koq sampai – sampai ibu saya jadi kecanduan. Pas ane tonton tu sinetron pas ada adegan seorang cewek yang akan tertabrak mobil. Ketika mobil semakin mendekat dan si cewek sadar bahwa dirinya akan tertabrak, si cewek itu justru tidak segera bergegas lari atau minggir, tapi malah menutup mata dan teriak auuuu….. .

Didalam fikiran saya, “sarap ni cewek, cari mati kayaknya ni orang !”.

Dan apa coba kemudian yang terjadi? Si cewek itu akhirnya jadian sama orang yang nabrak tadi. Karena kebetulan (eh..sudah di-set) yang bawa mobil itu adalah seorang cowok.

Didalam fikiran ane bertanya lagi,”enak bener tu cowok, sudah nabrak, bikin si cewek sakit, e….malah dapat pacar. Saya aja yang nggak pernah nyakitin cewek cari pacar satu saja sulitnya minta ampun !”. Kadang- kadang saya malah berfikir apakah sinetron ini ingin memberitahu pada para jombloers tentang bagaimana trik ngedapetin cewek. Jadi nanti seandainya ada cewek cantik lagi jalan, na…itulah saatnya para jombloers siap- siap menjalankan adegan seperti di senetron tadi, kencangkan sabuk pengaman (*khusus mobil, kalau motor ya cukup kencangkan ikat pinggang), kemudian senggol sedikit tu cewek. Setelah si cewek kesenggol dan merasa kesakitan setengah tak berdaya, saat itulah kita tembak dia. Dapet pacar deh kita. #Aneh

Ada lagi ni yang mbuat ane agak geli, dan ketawa- ketiwi sendiri. Waktu ada adegan salah satu pemeran mau naik angkot. Pas adegan mau naik angkot, akhirnya ‘sound effect’ itu muncul. Menurut informasi yang ane dengar, penggunaan ‘sound effect’ berfungsi untuk mendramatisir sebuah alur crita. Naa….yang ane bingungin, sedramatis apa sih naik angkot itu sampai harus dikasih ‘sound effect’ ? Berdasar pengalaman ane dalam hal naik- menaiki angkutan umum, tidak ada hal yang menarik sekaligus mendebarkan kecuali kondisi ketika si kenek angkutan umum itu lupa narik bayaran ama ane. La di crita sinetron tadi kan baru mau naik, jadi belum ditarik bayaran to?

Kemudian ada yang ane bingungin juga waktu itu. Ane perhatiin khusus pemeran ceweknya, dari oma, ibu, ibu mertua, tante, adik, kakak, bahkan sampai pembantu rumah tangganya semua cantik – cantik. Nggak ada yang nggak cantik, semua dipukul rata di senetron itu. Na…ini kemudian memacu fikiran saya untuk bertanya- tanya, “ada ya memang daerah yang orangnya cantik- cantik semua? Wah…pengen juga tu kesana, minimal probabilitas saya dapat pacar cantik kan jadi lebih besar to?”

Itu mengenai beberapa adegan sinetron yang ane tonton waktu itu. Kalo mengenai jalan crita ane nggak tahu jelasnya. Karena penasaran, akhirnya ane tanya ama ibu ane bagaimana jalan crita tu sinetron. Kata ibu, sinetron itu ceritanya begini:

“Bapak A menikah dengan Ibu B, kemudian punya anak C, dan D. Setelah berjalannya waktu ternyata diketahui bahwa C, dan D bukanlah anak dari Bapak A. Mereka (C dan D) adalah anak dari hasil perselingkuhan Ibu B dengan Bapak E. Bapak E sendiri sebenarnya punya istri yaitu Ibu F, pasangan ini punya anak  yaitu G. Dan ternyata anak G ini juga bukan merupakan anak kandung Bapak E, dia (anak G) adalah hasil hubungan Ibu F dengan Bapak A”

“Wuidiiiiiih….. Ekstrim bener tu sinetron !!” Yang lebih ngeri lagi, setelah anak- anak tadi pada dewasa dan akhirnya menikah kemudian punya anak, e… anaknya malah saling ketuker.

Setelah ane pahami ngeri juga tu crita, cepat- cepat deh ane ralat harapan ane didepan untuk dapetin cewek di daerah sinetron itu berada. La emangnya Anda mau punya istri cantik tapi tidurnya sama suami tetangga?

*no hard feeling, just for laugh

Oleh: bayu sindhu raharja | Januari 26, 2012

Talking about hantu

Beberapa tahun terakhir ini ane lihat di tv, khususnya di dunia perfilman kita muncul beberapa species atau varian hantu baru. Kalau dulu waktu kecil, hantu yang ane tahu ada genderuwo, colok, pocong, kuntilanak, suster ngesot, dan sundel bolong. Tetapi sekarang, ada species baru seperti kuntilanak duyung. Ane nggak tahu dari mana species ini berasal, tapi menurut namanya, kuntilanak duyung, berarti hantu ini sebenarnya berasal dari species lama yaitu kuntilanak, mungkin saja didalam species kuntilanak sedang terjadi perbedaan pendapat, antara kaum kuntilanak progresif dan kaum kuntilanak konservatif. Kaum progresif menghendaki adanya pembaharuan, sedangkan kaum konservatif tetap pada pendiriannya yaitu mempertahankan eksistensi dari status quo.  Karena mungkin kaum progresif tidak difasilitasi pendapatnya, akhirnya dia memisahkan diri kemudian hadir dengan varian baru yaitu kuntilanak duyung, sebagai hasil dari koalisinya dengan putri duyung.

Tapi ada yang lebih penting dari itu, yaitu bakat atau talenta dari hantu yang dulu kita kenal hanya sebatas menakut- nakuti manusia, sekarang mulai bertmbah. Misalnya, hantu goyang karawang, ane nggak tahu pasti ini dari species hantu mana, tapi yang ane tahu bahwa hantu sekarang tidak hanya bisa nakut- nakutin orang tetapi bisa juga joget. Kemudian, ada bakat lain lagi yaitu hantu yang sangat menjaga kebersihan, setan keramas, mungkin hantu ini semasa hidupnya adalah orang yang perfeksionis ketika sudah jadi hantu pun dia nggak rela ada sedikitpun kotoran yang menempel pada tubuhnya. Jadi jangan kaget nantinya Anda menemui hantu yang rambutnya terurai indah, bukan karena dia rajin ke salon melainkan hanya karena dia rajin keramas.

Keberadaan hantu kuntilanak duyung, kemudian bertambahnya talenta- talenta atau keahlian dari hantu- hantu tersebut jelas kembali meramaikan pasar persaingan hantu. Bahkan untuk menegaskan eksistensinya si pocong pun mengumbar statement ‘pocong juga pocong’. Ane nggak tahu pasti apa implikasi dari statementnya tersebut. Tapi mungkin ini adalah konfirmasi tentang keberadaan film yang berjudul pocong 1, pocong 2, pocong 3. Maksudnya adalah bahwa apapun bentuk dan namanya, baik itu pocong 1, pocong 2, atau pocong 3 tetap dia adalah pocong. Atau mungkin si pocong ini mengikuti tren ABG sekarang, ABG- ABG labil. Jadi si pocong ini juga labil, nggak tahu jati diri yang sebenarnya dia miliki sehingga dia harus menegaskan bahwa ‘pocong juga pocong’.

Peta persaingan ini sebenarnya berpusat pada persaingan hantu perempuan. Selama ini dalam jagat dunia perhantuan perempuan, tidak ada yang bisa menggeser dominasi species seperti kuntilanak, sundel bolong, dan suster ngesot. Dengan munculnya varian baru yaitu kuntilanak duyung ini berarti pertanda ada penambahan varian baru, species putri duyung yang selama ini tidak terdengar gaungnya dipasar mencoba beraliansi dengan salah satu varian yang berasal dari sempalan species kuntilanak. Dalam dunia bisnis, strategi aliansi memang jamak digunakan karena resources yang selama ini dimiliki tidak cukup untuk mendapatkan pasar.

Kemudian bagaimana dengan sundel bolong dan suster ngesot?

Dari kedua species ini belum menunjukkan adanya strategi -strategi baru. Mungkin mereka sudah puas dengan apa yang dia dapatkan dari segmen pasar yang dia miliki. Tapi bagaimana pun bentuknya, kedua species tadi harus segera memikirkan bagaimana mereka akan berinovasi. Karena dalam ekonomi kapitalisme sekarang ini, inovasi merupakan nafas penting yang tidak bisa ditawar- tawar lagi. Pilihannya hanya ada 2, berinovasi dan tetap eksis dipasar atau tidak berinovasi kemudia tersingkir dari pasar. Bicara mengenai suster ngesot, ane kurang setuju dengan sebagian orang yang meng-understimate si suster ngesot. Mereka mengatakan bahwa tidak banyak yang bisa diharapkan dari hantu yang memiliki keterbatasan fisik karena ini akan membatasi manuver- manuvernya dalam proses menakut- nakuti orang. Akan tetapi yang harus diketahui bahwa sebenarnya dari species hantu perempuan, yang memiliki tingkat akademis tinggi adalah suster ngesot, karena bagaimana pun juga dia adalah lulusan sekolah keperawatan.

(Referensi utama diambil dari perkembangan judul film di Indonesia)

*No hard feeling, just for laugh

Oleh: bayu sindhu raharja | Januari 22, 2012

Sisi lain mahasiswa: Dinamika persahabatan

Dinamika, dibayangan ane yang namanya dinamika itu gerak dari turun kemudian naik, dari kanan kekiri, dari pojok ke sudut (*mikir). Pokoknya yang ane simpulin kalo denger kata ‘dinamika’ adalah gerakan. Begitu juga dengan persahabatan kami, sekokohnya – kokohnya persahabatan tetap tidak bisa berada pada satu titik yang sama. Selama ini ane sering cerita tentang bagaimana kekompakan kami, kesolidan kami, bahkan ketika kami harus ditinggal Guntur, kami tetap solid (*bukan silit). Tapi ya itu tadi, seperti yang ane ocehin didepan sesolid appun persahabatan itu, akan tiba masa dimana kesolidan itu akan diuji sesuai dengan batas kemampuan hamba-Nya. (*Allohumma..Amiin..)

Peristiwa itu terjadi ketika kuliah Pak Wiryo, dosen yang mengampu mata kuliah Pancasila Dasar. Bukannya ane nggak Pancasialis, tapi saat itu ane rada males ngikutin kuliah itu sehingga ane putusin nggak masuk dulu. Kuliah Pancasila, yang ane inget saat itu si dosen selalu memaksakan kehendaknya kepada semua mahasiswa agar supaya membeli buku ajar yang sudah dia tentu’in. Dan barang siapa yang tidak membelinya, nilai C/D sudah barang tentu akan jadi ganjarannya. “Itu semuakan jelas bertentangan dengan nilai Pancasila ! Dalam Pancasila nggak ada tu sila yang bunyinya: Pemaksaan kehendak tertuju kepada seluruh mahasiswa !”. *fikirkan

Tanpa sepengetahuan dan seijin kelompok, ane mutusin untuk nggak masuk kuliah Pak Wiryo. Waktu itu ane lebih milih melakukan salah satu cabang olahraga yaitu senam jari (baca: PSan) bersama temen- temen lain yang pada dasarnya temen- temen lain itu merupakan kelompok yang agak berseberangan dengan kelompok ane, walaupun sebenarnya kami satu kelas. Sejujurnya yang berseberangan itu hanya satu- dua- tiga- empat- lima orang saja. Sedangkan Baca Lanjutannya…

Oleh: bayu sindhu raharja | Januari 18, 2012

Sisi lain mahasiswa : Anatomi kisah percintaan

Di cerita yang lalu (baca disini) ane sebutin salah satu dosen paporit kami. Bu Feri namanya, dia cantik, baik hati dan tidak sombong. Pokoknya selera ane banget dah…(*selera semua orang kali..). Ngomongin soal cewek merupakan pokok bahasan wajib yang tak bisa ditinggalkan dalam diskusi kelompok kami.  Banyak kisah yg ane inget jaman – jaman kuliah dulu khusus soal itu. Kisah kami dengan cewek idaman masing – masing merupakan salah satu bumbu – bumbu penyedap persahabatan kami.

Oke, alkisah dimulai dari ane sendiri. Ane dulu pernah naksir cewek satu kampus, do’i berasal dari kota yang sama dengan ane, Klaten The Shine of Java. Walaupun temen – temen ane bilang dia kurang cantik, tapi bagi ane dia gadis yang menarik. Pertemuan berawal di parkiran motor fakultas ekonomi. Waktu itu ane curi-curi pandang, setelah ada sinyal positif ane ajak kenalah deh tu do’i. Alhamdulillah gayung bersambut, niat positif ane untuk ngajak kenalan direspon ama si do’i. Tukeran nomer hp, sms- sms an, tilpun – tilpunan jadi kegiatan rutin selanjutnya. Ya… Walaupun kadang ane harus rela ngutang dulu untuk beli pulsa, maklum nomer ane dan nomer si do’i beda operator jadi jatuhnya mahal. (*harap maklum juga, modal cekak). Tapi untungnya ane punya temen yang rela dan siap ane repotin untuk keperluan utang/piutang. Setelah ane merasa proses PDKT sudah lebih dari cukup, ane putusin untuk nembak do’i. Tepatnya sore itu didepan Baca Lanjutannya…

Oleh: bayu sindhu raharja | Januari 13, 2012

Sisi lain mahasiswa : Dosen paporit vs dosen an-paporit

Walaupun sudah ditinggal satu personel, Guntur (baca disini), persahabatan kami masih tetap solid. Akan tetapi, memang ada sesuatu yang agak berbeda. Keberanian, dan sifat radikal (*tapi bukan teroris) yang dimiliki oleh Guntur mau tidak mau, diakui atau tidak diakui, telah memberikan warna tersendiri pada cara pandang kami dalam menghadapi masalah. Lho.. tapi kan masih punya Benjo? yang selama ini mengaku bahwa dirinya seorang revolusioner sejati?. Disitulah perbedaan Guntur dan Benjo. Guntur lebih menekankan pada aksi yang nantinya akan dieksekusi sendiri. Sedangkan Benjo lebih menekankan aksi yang pada nantinya dieksekusi oleh orang lain, atau dengan kata lain si Benjo ini lebih punya kekuatan komunikasi sehingga propaganda – propaganda yang dia lakukan cukup efektif.

***

Agan – agan pernah kan denger iklan Axe? Yang katanya,”kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah Anda?” Itu semua gak cocok blas sama pertemuan pertama kami dengan Pak Subadi. Kuliah Pak Subadi seinget ane dilaksanakan hari Senin pukul tuju pagi. Beliau, Pak Subadi, adalah seorang yang sangat konvensional dalam berpikir, perfeksionis dalam penampilan, dan memiliki kadar kedisiplinan tingkat akut. Kebayang nggak sih, sifat yang dimiliki oleh beliau itu jelas nggak ada sedikitpun yang berkorelasi dengan kami. “Kami kan sekumpulan mahasiswa yang sangat – sangat dinamis sekali?”, bahkan saking dinamisnya kami nggak bisa memberikan arti, intrepetasi, dan pemaknaan dari sebuah kata yang dinamai dinamis itu sendiri (*modyar ndasmu !, cobo pikiren maksute). Wal akhir, ketika pertemuan pertama, kami terpaksa harus mengikuti perkuliahan dari kantin (#alias tidak diijinkan masuk), karena alasan terlambat dan alasan penampilan. Kata dia, Baca Lanjutannya…

Oleh: bayu sindhu raharja | Januari 11, 2012

Sisi lain mahasiswa: Pesta dan perpisahan

Seperti yang ane sudah singgung di crita sebelumnya (baca disini), bahwa di semester selanjutnya kami bakal kehilangan satu personel, yaitu Guntur. Temen ane itu mutusin untuk nggak nglanjutin kuliahnya, sampai saat ini ane nggak tahu alasan pastinya. Tapi yang ane tahu pasti, sekeluarnya Guntur dari kampus dia merantau ke pulau seberang, tepatnya di kota Banjarmasin.

Seperti biasa, hari itu kami ngetem di markas besar, tepatnya disamping kantin sebelah timur laut gedung kuliah kami (*modyar, cobo pikiren). Ditengah asik-asiknya bercanda, Guntur bercerita bahwa dia ingin keluar dari dunia perkuliahan. Tapi saat itu yang ane inget, nggak ada satupun dari kami yang menganggap bahwa cerita Guntur itu serius (*ya inilah susahnya, dasar sudah urakan jadi sulit nyambung kalo diajak bicara serius). Guntur tetap mencoba dengan segala daya upaya untuk menyakinkan kami akan Baca Lanjutannya…

Oleh: bayu sindhu raharja | Januari 11, 2012

Sisi lain mahasiswa : Battle itu dimenangkan Bu Irti

Setelah kejadian itu (baca disini), suasana perkuliahan di hari-hari selanjutnya semakin menegangkan. Khususnya bagi genk ane, setiap jam perkuliahan kami selalu diteror Bu Irti dengan soal – soal yang sudah barang tentu tidak bisa kami kerjakan didepan kelas (*maklumlah, tugas utama mahasiswa kan bukan belajar, melainkan membangun networking, dan silaturahmi /baca:mblayang). Jadi, setiap jam perkuliahan Bu Irti kami selalu ditertawakan, dan dijadikan bulan – bulanan oleh Bu Irti. Terlintas diotak kami untuk menggemboskan ban mobil beliau, tapi itu semua nggak pernah terealisasi secara lancar karena usaha kami selalu digagalkan oleh Bapak Satpam. Pernah ketika itu hampir saja kami berhasil, tapi ya itu tadi, satpam kampus selalu saja melakukan intervensi untuk menggagalkan usaha kami. Pernah juga ketika itu kami sempat kepergok, karena memergoki aksi yang kami lakukan si satpam sontak mendatangi kami. Sebelum diintrogasi lebih lanjut kami putuskan untuk kabur. Aksi kejar-kejaran pun terjadi, dan akhirnya sampailah kita di tempat persembunyian paling aman, yaitu perpustakaan fakultas. *cuma 1 kali masuk perpustakaan fakultas, ya pas itu doang*

Ujian akhir semester tiba, semua mata kuliah sudah diujikan kecuali mata kuliah Bu Irti yang baru akan diujikan hari itu. Ane, Kokom, Memet, Seno dan yang lain sempat ‘shock’ melihat soal yang dibagikan hari itu. Yang ane inget waktu Baca Lanjutannya…

Oleh: bayu sindhu raharja | Januari 10, 2012

Sisi Lain Mahasiswa: Dari Patungan Sampai Perlawanan*

 Seno, Memet, Guruh, Guntur, Benjo, Kokom, Gondrong, Ju’on, dan Sapto. Nama – nama yang disebutin didepan adalah temen satu geng ane (baca: saya). Setelah semuanya kumpul diparkiran, sebelum masuk kelas, biasanya yang kami lakukan terlebih dulu adalah kunjungan rutin ke kantin samping fakultas. Setelah sampai di kantin, ritual rutin yang telah disepakati bersama akhirnya dilaksanakan, *keluarin uang 1000 untuk patungan ngecer rokok + kopi 1 gelas*. “Lho koq cuma satu kopinya?”. Bagi kami, nggak masalah kopi buat joinan, yg penting rokok harus pegang sendiri – sendiri. Hehe…

Hari itu, disamping kantin (*tempat ngetem) kami duduk – duduk sambil rokok’an + joinan kopi, kemudian rutinitas selanjutnya yang mesti dilakukan adalah menikmati indahnya salah satu ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, (baca:mahasiswi). Perlu diketahui bahwa tempat kami ngetem sehari – hari merupakan jalur alternatif bagi mahasiswa fakultas komunikasi, yg sebagian besar mahasiswanya adalah perempuan. Tanpa diduga – duga dan dinyana -nyana, terlihat dari parkiran mobil seorang gadis cuantik keluar dari mobil Honda Jazz warna merah. Seketika itu juga mata kita langsung melotot ngliatin si gadis. Maklumlah, karena sebagian besar dari kita sudah lama jadi jomblo (*sekedar pembelaan biar ndak dikatain jlalatan sih). Wuihhh… Bener-bener dah cantiknya, jalannya aja kayak pramusaji, eh..pramugari maksud ane. Setelah beberapa meter berjalan, sampailah dia didepan kita. Tanpa komando kami kompak berdiri, kemudian dengan pede kami ulurkan tangan sebagai pertanda ajakan untuk berkenalan. Tanpa membalas uluran tangan kami, si gadis berlalu dengan senyum sinis dibibirnya. *Oalah…nasib…nasib..nasib*

“Ya bisa dimaklumi sih kenapa gadis itu nggak mau kenalan sama kami”. Ketemu berapa soal coba? gadis cantik dengan tongkrongan Honda Jazz mau berkenalan dengan kami – kami ini, sekumpulan cowok – cowok ‘mbladus’, tampang minimalis, modal cekak, saking cekaknya harus patungan dulu untuk ngecer rokok + beli kopi. Tapi tak apalah, tak sedikitpun ada rasa kecewa dihati kami, karena semua itu hanya kita anggap sebagai angin lalu (*sok tegar ceritanya).

Mungkin Anda bertanya, “apakah kalian tidak malu?”. O…tentu tidak, rasa malu kita sudah ikut terkorupsi oleh pejabat – pejabat negeri ini. Hehe… Setelah khatam menikmati salah satu ciptaan Tuhan (sekali lagi baca: Mahasiswi) khusus untuk hari itu. Ane, Memet, Kokom, Guruh, Guntur, Ju’on, Benjo, dan Sapto memutuskan untuk segera naik ke kelas dan memilih untuk tidak menuruti kemauan Seno dan Gondrong yang berencana untuk menunda kepergian ke kelas. Bukan bermaksud tidak setia kawin, eh..setia kawan maksudnya, tapi hari itu adalah kuliah Bu Irti, yang mana menurut kabar burung yang kami dengar konon katanya Bu Irti merupakan salah satu dosen ‘killer’ di kampus kami. Maklum, sebelumnya kami belum pernah diajar oleh Bu Irti.

Oke dah..agar pembaca bisa menerka – nerka wajah Bu Irti, ane berikan profil singkatnya. Usia Bu Irti belum terlalu tua, walaupun tidak bisa juga dikatakan bahwa dia masih muda. Selain sebagai dosen, beliau juga seorang bisnis woman, jadi tongkrongannya kayak orang sibuk bener Gan. Indikator bahwa dia orang sibuk bisa terlihat dari HP yang dia miliki. Dia punya 3 HP, *mahal semua HP-nya Gan*, satu dia pegang ditangan kanannya, satu lagi ditangan kirinya, dan yang terakhir dikalungkan dilehernya. Letak dari HPnya itu selalu konsisten, bahkan ketika dia sedang ngajar (*Coba deh bayangin Gan, bagaimana wujudnya). Ane gak bisa ngebayangin deh bagaimana kalau ketiga – tiganya bunyi semua?. Pernah sih ketika itu, ketika dia nerima telpon dari HP yang ditangan kanan, belum selesai bicara yang dileher sudah ikutan bunyi. Wuaaahhh… Heboh sendiri Dia, hahahaa… Satu lagi yang saya ingat dari Bu Irti adalah kebiasaannya yang jarang mengumbar senyum. Oke… Sudahkah Anda bisa membayangkannya? Kalau belum, ya sudahlah gak usah dipaksain.

 Waktu itu perkuliahan Bu Irti sudah berlangsung selama 30 menit lebih, ketika Bu Irti sedang ngejelasin, seperti tanpa beban dosa dalam dirinya Seno dan Gondrong nylonong masuk kelas kemudian duduk dibangku paling depan. Sontak ketika itu Bu Irti langsung menanyai kenapa mereka berdua terlambat. *Sekali lagi seperti tanpa dosa* Seno dan Gondrong menjawab bahwa mereka baru saja dari kantin. Seketika itu terucap kata,” Keluarrrrrr…!” dari mulut Bu Irti. Bukannya langsung keluar, Seno dan Gondrong masih duduk dengan tenangnya , bahkan malah ngeluarin catatan dari tas lusuhnya. Kondisi ini semakin memancing emosi Bu Irti memuncak, seperti seorang diktator perempuan sontak dia berujar, “Saya yang keluar atau kamu yang keluarrrr…. ?!!!!!!!!”. Karena ucapan Bu Irti tersebut, suasana kelas kemudian sunyi senyap. Ditengah – tengah kesenyapan kelas. Benjo, yang selama ini mengaku bahwa dirinya adalah seorang yang berjiwa revolusioner dan selalu berikrar akan terus mengobarkan semangat perlawanan, menggunakan keahliannya untuk mengorganisasi teman sekelas lewat jalur bawah tanah (baca: bisik – bisik) untuk meninggalkan kelas Bu Irti. Apa yang terjadi kemudian? Bukan Bu Irti yang keluar, atau Seno dan Gondrong saja yang keluar, tapi semua mahasiswa keluar kelas perkuliahan Bu Irti. Sampai saat ini ane nggak tahu alasan utama keluarnya mahasiswa dari kelas Bu Irti saat itu. Apakah karena keberhasilan Benjo dalam melakukan propaganda revolusionernya atau memang semua sudah ‘empet’ sama kehebohan Bu Irti dengan dering telponnya, yang mana pada saat itu tidak hanya berdering sekali, melainkan berkali – kali.

Yang ane tahu pasti, setelah kejadian itu ane dan temen – temen satu geng ane jadi TO utama Bu Irti. Dan genderang perang pun akhirnya ditabuh….!

(*perlawanan disini jangan sampeyan maknai sebagaimana layaknya kata perlawanan dalam dunia pergerakan)

Oleh: bayu sindhu raharja | Januari 6, 2012

Kiat Esemka: Bagaimana Selanjutnya ?

Beberapa hari terakhir ini nama mobil ‘Kiat Esemka’ sedang naik daun. Sebuah mobil yang diproduksi oleh anak bangsa sendiri, kerja sama antara pengusaha cat mobil di Klaten ‘Kiat Motor’ dengan beberapa pelajar SMK di Solo. Yang konon katanya mobil tersebut sudah lama diproduksi, dan sudah mengajukan ijin terkait beberapa hal, ijin tersebut antara lain ijin kelayakan jalan, emisi, dsb. Namun sudah sekitar 2 tahun diajukan, ijin dari departemen terkait tak kunjung turun. Ditengah ijin yang tak kunjung turun, Joko Widodo walikota Surakarta atau biasa disapa Jokowi melakukan aksi yang membuat khalayak menjadi ramai membicarakan mobil ‘Kiat Esemka’. Khalayak ‘digegerkan’ dengan aksi Jokowi mengganti mobil dinasnya Toyota Camry dengan mobil ‘Kiat Esemka’. Aksi yang dilakukan oleh Jokowi ini direspon positif oleh beberapa pihak, terutama oleh media. Beberapa media cetak maupun media elektronik memberi respon dengan cara terus – menerus memberitakan hal tersebut, yang pada akhirnya berdampak dengan melambungnya nama ‘Kiat Esemka’. Pada titik ini kita kembali disuguhi fakta bahwa media memiliki peranan penting dalam membentuk opini publik. Selain respon positif tersebut, ada juga respon negatif yang datang terkait aksi yang dilakukan oleh Jokowi. Respon negatif, bahkan kalau saya anggap bisa dikatakan uderestimate, datang dari Gubernur Jateng Bibit Waluyo.

Daripada menanggapi respon negatif dari Bibit Waluyo, ada hal yang tentu tak kalah menarik untuk ditanggapi terkait aksi yang dilakukan oleh Jokowi tersebut. Dari sisi pemasaran, apa yang dilakukan oleh Jokowi jelas memberikan dampak positif bagi mobil bermerek Kiat Esemka. Dalam memasarkan produk, salah satu tahapan penting yang harus dilakukan adalah ‘brand awarness’. Yang tujuannya adalah membuat konsumen sadar bahwa brand/merek kita ada dipasar. Pada tahap ini aksi Jokowi sangat membantu sekali, Jokowi yang notabene adalah pejabat publik dan merupakan orang nomor satu di Solo memudahkan proses ‘brand awareness’ dari mobil bermerek Kiat Esemka. Setelah konsumen sadar bahwa merek kita ada, tentu tahap yang diharapkan selanjutnya adalah konsumen tersebut mau membeli merek kita. Setelah konsumen mau membeli, tahap selanjutnya adalah ‘brand loyalty’ yang bertujuan membuat konsumen loyal terhadap merek kita. Bagaimana cara membuat konsumen mau beli dan loyal terhadap produk kita ? Saya tidak akan menyampaikan disini, karena tulisan ini bukan artikel manajemen pemasaran. Heheee….

Mungkin Anda bertanya, “apakah semudah itu memasarkan produk?”. Jawaban saya, “tidak !”. Masih ada proses yang sifatnya spesifik yang harus kita lalui, misalnya STP (segmenting, targeting, dan positioning). Tapi, seperti yang telah diungkapkan diawal, saya tidak akan membahas hal tersebut. Didalam tulisan ini saya hanya menanggapi aksi Jokowi dan dampaknya pada salah satu proses pemasaran yaitu ‘brand awareness’. Lebih dari itu, saya ingin mengatakan bahwa aspek – aspek didalam bisnis sangat penting untuk menunjang kesuksesan mobil produksi anak bangsa itu. Jangan terulang kisah masa lalu, kisah terkait pesawat terbang buatan anak bangsa ‘Tetuko’. Tidak suksesnya ‘Tetuko’ disebabkan beberapa faktor, antara lain faktor tidak adanya minat beli dari konsumen. Yang kemudian nama ‘Tetuko’ diplesetkan menjadi ‘seng tuku ra teko-teko, seng teko ra tuku-tuku”.

Masih segar diingatan saya bagaimana kisah Steve Jobs diawal – awal berdirinya perusahaan Apple. Pada waktu itu Steve Jobs dkk membutuhkan dana segar untuk memproduksi Apple II. Setelah berhasil bertemu dengan kreditur, si kreditur mensyaratkan pada Steve Jobs adanya ahli pemasaran didalam perusahaannya. Atau dengan kata lain, si kreditur hanya mau mencairkan dana untuk produksi Apple II kalau perusahaan yang dimiliki Steve Jobs punya ahli dalam bidang bisnis. Selain kisah tadi, jauh sebelum kisah mengenai Apple II, ada kisah tentang bagaimana kolaborasi Steve Jobs dengan Steve Wozniak yang cukup sukses dalam menjual produk Blue Box, sebuah alat yang berguna untuk meniru frekuensi gelombang dari perusahaan operator telepon yang dampaknya adalah si pemakai Blue Box bisa menelpon secara gratis ke luar negara bagian di Amerika Serikat. Steve Wozniak adalah orang yang sangat ahli dibidang teknik, kemudian Steve Jobs adalah orang yang tidak hanya ahli dibidang teknik tapi juga cukup memiliki kemampuan di bidang memasarkan produk. Dua kisah tersebut adalah bagian dari beberapa kisah sukses perusahaan Apple. Dan dari kisah itu, bisa dilihat bagaimana pentingnya kombinasi antara bisnis dan teknik.

Kemudian bagaimana dengan Kiat Esemka, bagaimana langkah selanjutnya?. Tidak ada jalan lain kecuali mendorong mobil buatan anak bangsa itu masuk dalam kancah percaturan industri mobil di Indonesia. Karena akan menjadi percuma ketika konsumen tahu keberadaan mobil bermerek Kiat Esemka, tapi kesulitan untuk mengakses pembeliannya. Mungkin Anda akan berfikir, “Apakah tidak terlalu beresiko?, bagaimana mobil Kiat Esemka survive bertarung dengan perusahaan yang selama ini sudah mapan di Industri mobil?”. Tenang, kita punya banyak ahli untuk mengatasi hal tersebut, dan seperti yang telah disinggung diawal bahwa nanti disitulah peran dari seorang yang ahli dalam bidang strategi bisnis. Mungkin Anda akan kembali bertanya,”apakah saya ini terlalu overestimate?”. Saya jawab, “tidak !”. Menurut hemat saya masih ada ceruk pasar yang bisa dimasuki oleh Kiat Esemka dalam industri mobil di Indonesia ini.

Harapan saya, dikemudian hari diskusi kita tidak lagi berkutat pada fenomena kemunculan mobil Kiat Esemka, tapi sudah masuk ke aspek yang lebih spesifik yaitu terkait bagaimana seharusnya strategi bisnis yang dijalankan oleh mobil buatan anak bangsa itu untuk memenangkan pasar persaingan mobil di Indonesia. Akhir kata, “Maju terus anak – anak bangsa Indonesia”.

Salam
BSR
Warung kopi, 6 Januari 2012

Oleh: bayu sindhu raharja | Januari 6, 2012

PSSI… Oh.. PSSI

Beberapa hari terakhir ini saya baca halaman olahraga di kompasiana. Topik yang hangat didiskusikan apa lagi kalau bukan PSSI, induk organisasi tertinggi di negara kita, Indonesia. Kisruh terkait dualisme kompetisi, antara IPL dan ISL yang kemudian berujung pada dilarangnya pemain dan klub ISL untuk berkontribusi pada tim nasional Indonesia. Ada pro dan kontra dalam hal tersebut, khususnya sebagian kontributor kompasiana yang saya amati sudah terbagi menjadi beberapa kubu. Kubu 1 adalah yang pro IPL, kubu 2 adalah kubu yang pro ISL, kubu 3 adalah kubu yang mencoba terlihat netral dalam melihat masalah ini, tapi tetap menunjukkan antusiasnya dalam mengikuti perdebatan ini, kemudian kubu yang terakhir adalah kubu 4, kubu yang keempat ini terlihat apatis, jadi komentar yang dilancarkannya pun terlihat masa bodoh dengan apa yang terjadi pada PSSI sekarang ini.

La kemudian sidang pembaca bertanya – tanya, saya selaku penulis ini masuk dalam kubu mana ?(*hehe). Silahkan saya persilahkan sidang pembaca memberikan ‘judment’ untuk saya terkait kubu mana yang saya ikuti. Yang pasti dulu ketika dilaksanakan KLB (kongres luar biasa) harapan saya pada saat itu yang jadi ketua adalah bukan yang berasal dari dua kubu yang pada saat itu sedang bertentangan. Harapan saya, ketua yang muncul berasal dari kelompok alternatif. Tapi itu tentu nggak bakalan terjadi, karena para pemilik suara sudah terbagi menjadi 2. Dua kelompok itulah yang bertentangan pada saat itu, jadi seperti yang sudah saya ungkapkan bahwa munculnya ketua alternatif nggak bakalan muncul.

Munculnya dualisme kompetisi merupakan manifestasi dari apa yang terjadi didalam tubuh organisasi PSSI. Lines (2004) dalam artikel penelitiannya menyatakan bahwa ‘outcome’ dari sebuah proses organisasi ada 2 macam. Proses organisasi dalam konteks penelitiannya adalah partisipasi anggota terhadap organisasi. Sedangkan terkait 2 ‘outcome’ dari proses organisasi, yang pertama adalah attitudinal outcome, antara lain meliputi kepuasan orang didalam organisasi tersebut, komitmen orang didalam organisasi terhadap organisasi itu sendiri. Kemudian ‘outcome’ yang kedua adalah behavioral outcome, antara lain meliputi konflik yang terjadi didalam tubuh organisasi, penolakan anggota terhadap perubahan yang terjadi dalam organisasi. Didalam artikel penelitiannya, Lines (2004) fokus pada kedua ‘outcome’ tersebut, khususnya fokus pada komitmen anggota organisasi dan penolakan anggota terhadap perubahan yang terjadi. Seperti yang dia nyatakan bahwa partisipasi merupakan sebuah proses organisasi yang akan berpengaruh terhadap kedua ‘outcome’ tadi. Selanjutnya hasil dari penelitian yang dia lakukan adalah bahwa dengan adanya partisipasi akan dapat meningkat komitmen anggota terhadap organisasi. Sementara ketiadaan, atau kurangnya partisipasi akan berdampak pada penolakan anggota terhadap perubahan yang terjadi dalam organisasi.

Dengan menggunakan perspektif penelitian Rune Lines, carut marut yang terjadi didalam tubuh PSSI dapat dipahami bahwa yang terjadi saat ini adalah persoalan didalam tubuh PSSI sendiri, internal PSSI. Faktor internal ini terkait bagaimana PSSI mendayagunakan anggota yang mereka naungi. Atau dengan kata lain, bahwa penolakan sebagian anggota terhadap keputusan pemimpin PSSI terjadi karena minimnya partisipasi anggota. Partisipasi dalam konteks ini adalah keikutsertaan anggota dalam merumuskan kebijakan. Merumuskan kebijakan tentunya bukan berarti memutuskan kebijakan. Karena memutuskan adalah hak prerogatif pemimpin. Akan tetapi dalam proses mengambil keputusan, pemimpin harus mempertimbangkan hal – hal yang terkait dengan proses perumusan kebijakan. Yang mana dalam proses perumusan kebijakan, anggota terlibat didalamnya.

Akan tetapi apakah sesimpel itu? Tentunya tidak seperti itu juga. Selain hal diatas, saya pribadi memandang bahwa masih ada faktor eksternal diluar organisasi. Misalnya, campur tangan pihak diluar organisasi. Saya tidak akan menyebutkan siapa pihak luar itu, karena saya yakin sidang pembaca pasti sudah tahu semuanya.

Jadi, sumber carut marut ini bisa kita golongkan menjadi 2, pertama adalah faktor internal dan kedua adalah faktor eksternal. Baik faktor internal maupun eksternal sudah saya jelaskan dalam paragraf sebelumnya. Akan tetapi, menurut pendapat saya pengaruh eksternal inilah yang saat ini menjadi faktor yang lebih kuat yang pada akhirnya sulit bagi PSSI untuk menyelesaikan masalah internalnya.

Warung Kopi, 14/12/2011
Salam

BSR

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.